IIK NU TUBAN

BERUSAHA MENJADI TELADAN

Pendidikan merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan kita, ini berarti bahwa setiap manusia berhak mendapat dan berharap untuk selalu berkembang dalam pendidikan. Pendidikan secara umum mempunyai arti suatu proses kehidupan dalam mengembangkan diri tiap individu untuk dapat hidup dan melangsungkan kehidupan. Sehingga menjadi seorang yang terdidik itu sangat penting. Pendidikan pertama kali yang kita dapatkan di lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat

Namun terkadang tidak jarang kita menemukan orang-orang yang berpendidikan tinggi namun disisi lain tidak memenuhi pendidikan bathinnya, yang artinya sekedar berpendidikan tapi kurang hormat atau bahkan tidak menghormati serta tidak menghargai peran guru, ulama atau kyai. Dengan kata lain banyak diantara orang disekitar kita bahkan mungkin keluarga kita yang kurang memperhatikan pola hubungan dengan siapa, bagaimana, seharusnya seperti apa kita bisa menempatkan diri terhadap mereka.

Team majalah BINU beberapa hari yang lalu pernah mengadakan pengamatan terhadap sejumlah dosen dan karyawan yang ada dilingkungan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan NU Tuban, dan menempatkan salah seorang nama untuk bisa dijadikan refrensi bagaimana selayaknya kita menghargai peran Ulama’ yang telah banyak berjuang menegakkan kaidah ke-Islaman demi tegaknya kebenaran dalam kehidupan yang penuh dengan tantangan di zaman yang modern seperti saat ini.

Diantara sederetan nama civitas akademika Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan NU Tuban ada salah satu nama yang tidak asing lagi baik itu secara internal kampus  maupun exsternal. Pak Karyo sebutan familiarnya begitu dikenal oleh mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan NU Tuban.

Pria kelahiran Gersik, 2 januari 1980 yang mempunyai anak satu dari pasangan Lailiyatul Badriyah, S.Pd. ini tercatat telah mengabdikan diri di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nu Tuban sejak awal pertama kali Akademi Kebidanan NU Tuban tahun 2003 lalu yang merupakan cikal bakal berdirinya STIKes NU Tuban. Kiprahnya sebagai dosen telah banyak mengantarkan mahasiswanya menjadi tenaga kesehatan yang terampil dan mengedepankan nilai-nilai ahlussunah wal Jama’ah. Karena disela-sela sebagai seorang tenaga pengajar kesehatan, Karyo juga tidak lupa selalu memberikan wawasan khusus pada  mahasiswa supaya tidak lupa untuk selalu mengedepankan sikap rendah diri.

Karier pendidikannya tergolong cemerlang, pada tahun 2003 karyo lulus diploma III Keperawatan dari Poltekes Surabaya, kemudian Setrata I Keperawatan dari ICME Jombang, kemudian meraih gelar Magister Manajemen dari STIE Mahardhika Surabaya pada tahun 2012 dan kembali meraih gelar strata II yang ke dua kali, dari Universitas Brawijaya Malang yaitu Magister Keperawatan pada tahun 2016.

Saat wawancara ekslusive dengan wartawan media Binu bersama pak Karyo beberapa hari yang lalu, “ apakah yang menjadi prinsip hidup anda  dalam menjalankan tugas sebagai seorang dosen maupun sebagai  pribadi?” Karyo menjawab, Bahwa dalam hidup professional itu penting dan perlu,  namun disisi lain kita harus selalu mengisi Qolbu kita dengan vitamin yang sehat. Apakah vitamin untuk memberikan hati anda supaya sehat?  “Saya berusaha selalu mendengarkan fatwa Ulama’ dan berusaha Tawadhu’ pada guru dan Kyai”.  jawab Karyo.

Lebih lanjut karyo mengatakan Tawadhu’ adalah sifat yang amat mulia, namun sedikit orang yang memilikinya. Ketika orang sudah memiliki gelar yang mentereng, berilmu tinggi, memiliki harta yang mulimpah, sedikit yang memiliki sifat kerendahan hati, alias tawadhu’. Padahal kita seharusnya seperti ilmu padi, yaitu “kian berisi, kian merunduk”. untuk itu saya berusaha untuk bisa Tawadhu’ pada Kyai. Namun itu juga saya masih belajar, ungkapnya.

Kemudian ketika ditanya, apakah anda mempunyai seorang guru atau Kyai yang anda kagumi atau menjadi panutan sehingga anda berusaha untuk patuh dengan apa yang disarankannya? “pada prinsipnya saya berusaha selalu mengikuti fatwa para Ulama”, namun saya juga mempunyai sosok yang saya anggap sebagai orang tua, guru maupun Kyai”. Siapakah yang anda makasud? Beliau adalah KH. Cholilurrahman. Beliau adalah sosok yang sangat saya kagumi karena beliau yang saya anggap orang yang yang selalu mempertahankan nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islami ditengah kegalauan bangsa sa’at ini.

Karyo juga tercatat sebagai dosen atau karyawan yang paling disiplin dan selalu mengedepankan kepentingan kampus daripada kepentingan pribadinya. Semangatnya kerja dan kerja perlu diapresiasi. Rasa tanggung jawab yang begitu tinggi membuat karyo sering pulang tidak tepat waktu karena harus menyelesaikan tugas yang diamanatkan padanya.

Dia juga menuturkan bahwa harapannya Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ini nantinya bisa menjadi kampus yang bisa menciptakan tenaga-tenaga kesehatan yang professional tetapi tetap tidak melupakan jati diri sebagai alumni Kampus STIKes NU yang selalu menghormati para Ulama’. (Nnm).

BERUSAHA MENJADI TELADAN
Scroll to top