Tuban, Senin (20 April 2026) — Dalam rangka memperingati Hari Kartini, Institut Ilmu Kesehatan Nahdlatul Ulama (IIK NU) Tuban menggelar apel pagi yang berlangsung khidmat dan penuh nuansa budaya. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh civitas akademika dengan mengenakan busana adat Jawa.
Suasana kampus tampak berbeda dari biasanya. Para laki-laki tampil gagah dengan balutan beskap, sementara para perempuan tampak anggun mengenakan kebaya, mencerminkan semangat pelestarian budaya sekaligus penghormatan terhadap perjuangan R.A. Kartini dalam memperjuangkan emansipasi perempuan.
Apel Hari Kartini ini dipimpin oleh pembina apel, Tri Yunita Fitria Damayanti, STr., Keb., M.Kes., calon Doktor, yang dalam amanatnya mengangkat semangat perjuangan Kartini melalui kutipan inspiratif yang sarat makna.
Ia menyampaikan, “Tahukah engkau semboyanku? ‘Aku mau!’ Dua patah kata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung dan membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan. Kata ‘Aku tiada dapat!’ melenyapkan rasa berani. Kalimat ‘Aku mau!’ membuat kita mudah mendaki puncak gunung.”
Melalui kutipan tersebut, pembina apel menegaskan bahwa semangat “Aku mau!” harus terus hidup dalam diri setiap mahasiswa, khususnya sebagai calon tenaga kesehatan.
“Selamat Hari Kartini untuk seluruh perempuan Indonesia. Teruslah merawat semangat ‘Aku mau!’ untuk menaklukkan setiap tantangan. Semangat pantang menyerah Kartini harus senantiasa hadir dalam sanubari para calon tenaga kesehatan,” ungkapnya.
Ia juga memberikan pesan khusus kepada mahasiswa IIK NU Tuban yang kelak akan mengabdi di bidang kesehatan. Menurutnya, para calon perawat, bidan, ahli gizi, dan administrator kesehatan merupakan srikandi masa depan yang akan berada di garda terdepan dalam menjaga dan merawat bangsa.
“Jadilah tenaga kesehatan yang tidak hanya kompeten, tetapi juga memiliki ketangguhan, ketelitian, dan empati tanpa batas. Perawat dan bidan harus cekatan menyelamatkan nyawa sekaligus mampu menyentuh aspek fisik dan psikologis pasien dengan penuh kasih. Ahli gizi harus cerdas membangun generasi sehat melalui nutrisi yang tepat, dan administrator kesehatan harus tangguh memastikan sistem pelayanan berjalan adil dan beradab,” tegasnya.
Mengakhiri amanatnya, ia mengajak seluruh peserta apel untuk terus belajar dan mengembangkan diri.
“Teruslah berdaya dan jadilah pelita yang membawa terang bagi terwujudnya kesehatan paripurna masyarakat Indonesia,” pungkasnya.
Kegiatan apel berlangsung dengan tertib, diawali dengan penghormatan kepada pembina apel, pengibaran bendera, pembacaan amanat, hingga penutup. Antusiasme peserta terlihat dari kekompakan dan keseriusan dalam mengikuti setiap rangkaian kegiatan.
Melalui kegiatan ini, IIK NU Tuban tidak hanya memperingati Hari Kartini, tetapi juga menegaskan komitmennya dalam membangun karakter generasi muda yang berbudaya, berintegritas, dan berdaya saing tinggi.
Singkatnya, ini bukan sekadar soal kebaya dan beskap. Ini tentang mental “Aku mau!”—kalau itu hidup, tantangan sebesar apa pun cuma jadi tanjakan, bukan tembok.

